Urusan Kita Tak Sama

Sadar atau tidak, kita sering bertanding memperlombakan capaian. Atau dalam sisi lain, yang diperunggulkan adalah derita. Ketika seorang saudara mengisahkan alangkah menyakitkannya suatu peristiwa, kita mencari-cari bagian hidup kita yang lebih mengenaskan daripada ceritanya. Yang lebih menyedihkan, kita melakukan itu semua sekedar untuk membuat prestasi atau nestapa kawan serasa tak ada nilainya.

Ini sebenarnya adalah penanda betapa lemahnya kesaling-fahaman di antara kita.

Saat seorang saudara bercerita bahwa pesawatnya ditunda dua jam, kita segera menyahut bahwa kita pernah terlantar empat jam  menanti penerbangan. Saat orang lain berkata alangkah repotnya beraktivitas sebab menunggu pulihnya lengan yang patah, kita dengan menggebu menceritakan betapa lebih menderitanya jika kaki yang mengalami fraktur.

“Kita, jika demikian,” ujar Dale Carnegie dalam The 5 EssentialPeople Skills, “Sedang bermain menang-menangan yang hasilnya adalah saling menyakiti.”

Maka alangkah penting lain dalam memahami mereka yang mungkin saja hidup dalam ukuran-ukuran berbeda adalah memeriksa kembali sikap kita. Adakah kita masih mempertandingkan derita atau memperlombakan lara sekedar untuk membuatlawan bicarakita makin terluka? Atau ketika saudara tercinta menangis menceritakan dukanya, kita telah mampu berbagi air mata disertaisenyum yang menguatkan?

Hari-hari ini, jika kita masih tetap saja kesulitan untuk saling memahami, resep paling sederhana untuk melatihnya adalah bertanya. Tanyakanlah pada orang lain apa yang akan mereka lakukan andai mereka ada dalam situasi kita.

 

Berbahagialah mereka yang bersikap terbaik dalam dekapan ukhuwah.

 

Sumber:

Dalam Dekapan Ukhuwah – Salim A. Fillah

 

 

Baca juga:

Kenyamanan Diri

Apa itu air Nabeez

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *