Segalanya Adalah Cermin Part 3 – Dalam Dekapan Ukhuwah | Ust. Salim A Fillah

ukhuwah

Segalanya Adalah Cermin Part 3 – Dalam Dekapan Ukhuwah | Ust. Salim A Fillah

 

Dan dia menangis, seperti ratapan seorang yang patah hati. Telingaku masih mengiang-ngiang akan suaranya

hingga kini.Dia mengatakan, “Robbi. Robbi.Ya Robbi!”

 

“Ali”, kata Dhiror, “Terus bermunajat kepada Alloh dengan mengadukan hal yang berbagai macam. Setelah itu, dia berkata pula kepada dunia, “Hai dunia, menjauhlah dariku! Mengapa engkau datang padaku Tak adakah orang lain untuk engkau dayakan?Adakah engkau sangat menginginkanku? Engkau tak mungkin mendapat kesempatan untuk mengesankanku! Tipulah orang lain! Aku tak memiliki urusan denganmu! Aku telah menceraikanmu tiga kali, yang sesudahnya tak ada rujuk lagi.

Kehidupanmu singkat, kegunaanmu kecil, kedudukanmu hina, dan bahayamu mudahberlaku! Ah… Sayang. Sangat sedikit bekal di tangan, jalan begitu panjang, perjalanan masih jauh, dan tujuan sukar dicapai!” Dhiror ibn Dhomroh pun duduk. Dia meratap. Mendengar ratapan itu, tangis Mu’awiyah makin tak tertahan. Dia terisak-isak, dan air matanya menetes, mengalir ke atas janggut-nya. Dia selalu mengelapnya dengan ujung pakaiannya.

Orang-orang yang ada di majelisnya turut terharu dan menangis.”Demi Alloh,” kata Mu’awiyah di sela isaknya, “Memang benarlah apa yang engkau katakan tentang ayah si Hasan itu, moga-moga Alloh merohmatinya Tetapi, bagaimana engkau dapati dirimudengan kehilangannya, hai Dhiror?” Kesedihanku atas kehilangannya umpama kesedihan seorang ibu yang anaknya disembelih di hadapan matanya sendiri.”

Airmatanya tidak akan mengering, dan pilu hatinya tidak akan ter-lenyap.  Dhiror ibn Dhomroh al-Kinani, masih dengan air mata dan keharuannya bangkit dari majelis itu dan pergi meninggalkan Mu’awiyah bersama para sahabatnya. Mereka juga masih terus menangis.

 

Baca juga:  Segalanya Adalah Cermin Part 2 – Dalam Dekapan Ukhuwah | Ust. Salim A Fillah

 

“Bukankah tidak tulus,” tanya seorang mahasiswa, “Jika kita memaksakan diri memuji orang yang kita benci, atau orang yang kita musuhi?” Orang yang ditanya itu tersenyum.
Namanya George W. Crane, seorang dokter, konsultan, dan psikolog. Saat mengajar di North-western University di Chicago pada tahun 1920-an, dia mendirikan apa yang disebutnya “Klub Pujian”. “Bukan,” kata Crane masih tetap tersenyum. “Anda bukannya tidak tulus ketika Anda memuji musuh Anda. Mengapa? Karena pujian itu adalah pernyataan yang jujur atas sifat atau keunggulan objektif yang memang pantas dipuji.
Anda akan menemukan bahwa setiap orang memiliki sifat baik atau keunggulan.” “Mungkin saja,” lanjut Crane dengan serius, “Pujian Anda mengangkat semangat dalam jiwa orang-orang kesepian yang hampir putus asa untuk berbuat baik. Anda tidak pernah tahu bahwa bisa saja pujian Anda yang sambil lalu itu, barangkali mengenai seorang anak laki-laki, anak perempuan, wanita, atau pria, pada titik penting ketika mereka
_
seandainya tidak mendapat sapaan itu
_
sudah akan menyerah.”
.
Nantikan di part 4
Yukk daftar sebagai santri Rumah Qur’an Ihya Ul Ummah