Khusyu’ Dalam Shalat Part 2

Khusyu’ Dalam Shalat

Oleh sebab itu, di antara hal paling penting dari perintah Allah yang harus
disosialisakan dalam keluarga adalah juga, shalat. Melalaikan shalat adalah
malapetaka. Sebaliknya, menyibukkan diri dengan ibadah tak akan membikin
manusia celaka, sengsara atapun merana.
“Dan perintahkanlah kepada keluarga kamu untuk mendirikan shalat
dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak
meminta dari kamu rezki. Kamilah yang akan memberimu
rezki. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang
bertakwa.” (ath-Thaha: 132)
Hanya saja, tak sembarang orang mukmin mampu dengan mudah mengabadikan
amalan shalat, apalagi dalam ujud yang sempurna rukun dan syaratnya,
ditambah sejumlah sunnahsunnah yang juga terdapat dalam shalat. Kemudahan
itu hanya milik mereka yang mampu tampil khusyu’ dalam shalatnya. Dalam
hal itu, Allah sudah menegaskan:
“Dan sesungguhnya yang demikian itu (shalat) amatlah berat, kecuali
bagi orang-orang yang khusyu'” (al-Baqarah: 45)
Celakanya, kebanyakan kaum Muslimin sering menjadi pelanggan shalat yang
kerap alpa, dan lalai melakukannya. Itu sudah menjadi ketentuan ilahi yang
akan berlaku, dan akan diperbuat oleh satu generasi di akhir jaman.
“Maka datanglah sesudah mereka generasi yang jelek yang menyianyiakan shalat dan memper turutkan hawa nafsunya; maka mereka
kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59)
Padahal, shalat adalah amalan yang paling utama, yang pertama kali
akan dihisab dari seorang hamba di hari akhir nanti. Bahkan Rasulullah
menjadikannya sebagai wasiat akhir sebelum kematian beliau. Beliau bersabda:
“Allah, Allah, (Wahai kaum Muslimin) pelihara lah shalat,
peliharalah shalat dan bertakwalah kepada Allah, serta peliharalah
para hamba sahaya yang menjadi milikmu.”

 

Baca juga: Khusyu’ Dalam Shalat

 

Demikianlah keagungan nilai shalat, dan demikian sebagian di antara ratusan
dalil yang berbicara tentang keutamaan shalat. Dengan itu, kita dapat menilai
realita yang ada di kalangan kita kaum Muslimin: Yaitu realita menganggap
shalat hanya sebagai rutinitas hidup, instrumen pelehgkap dalam putaran roda
kehidupan, yang tak lagi memiliki ruh, kualitas dan kemuliaan yang seharusnya
melekat pada ibadah shalat tersebut.
Shalat sudah dianggap melelahkan, terlalu menguras waktu (entah waktu yang
bagaimana), dan terkesan membosankan. Dan satu hal yang lumrah jika persepsi
itu memasyarakat, karena kaum Muslimin -kecuali yang mendapat rahmat Allahsudah kehilangan miliknya yang paling berharga dalam menjalankan shalat,
yaitu: kekhusyu’an. Nabi bersabda:
“Sesungguhnya karunia pertama yang dicabut Allah dari pars hambaNya adalah kekhusyu’an dalam shalat.” 2
Oleh sebab itu, sedapat mungkin kita berupaya memperoleh kembali (kalau
sungguh telah hilang dari kita) kekhusyu’-an dalam shalat yang menjadi ciri
mereka yang meyakini hari kebangkitan; berusaha membiasakannya dalam diri
kita, bahkan mencari cara dalam ajaran As-Sunnah yang dapat menguak jalan
ke arah itu.
1 Denisi Dan Pengertian Khusyu’
1.1 Secara Bahasa
Secara bahasa, kata khusyu’ memiliki beberapa arti yang sama:
1. Tunduk, pasrah. merendah atau diam.
Artinya mirip dengan kata khudhu’. Hanya saja kata khudhu’ lebih sering
digunakan untuk anggota badan, sedangkan khusyu’ untuk kondisi dan
gerak-gerik hati.

2. Bisa juga berarti rendah perlahan, biasanya digunakan untuk suara.
Allah berrman:
“Dan (khusyu’) merendahlah semua suara kepada Rabb Yang
Mdha Pemurah, maka kamu tidak mendengar melainkan
bisikan saja.” (Ath-Thaha: 108)

3. Arti khusyu’ juga bisa diam, tak bergerak.
Allah berrman yang artinya:
“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, kamu lihat bumi itu
diam tak bergerak (ada juga yang mengatakan: tandus-Pent),
dan apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak
dan subur.” (Al-Fusshilat: 39)

Kunjungi juga instagram kami di @generasiquran.ihya

You may also like...