Setiap Manusia Satu dengan yang Lain Menjadi Ujian

وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ ۗ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا

“Dan Kami jadikan sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain, sebagai ujian. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Tuhanmu Maha Melihat.” (Q.S. Al-Furqan: 20)

 

AYAT DI ATAS menegaskan bahwa kehidupan manusia, satu dengan yang lain adalah fitnah atau ujian. Mereka yang bersabar terhadap kondisi saudaranya, adalah yang paling baik akhlaknya. Ali bin abi Thalib ra. mengatakan: “Barangsiapa yang ingin memiliki saudara (al akh)tanpa cacat, maka ia tidak akan menemukannya.”. Jadi hanya dengan kesabaran; kita bisa hidup rukun, tanpa dendam, tanpa kebencian, saling mencintai dan saling menghormati.

Seseorang diakui sebagai orang yang berakhlak mulia, apabila sudah teruji dalam berbagai macam interaksi. Dan prestasi akhlak mulia ini timbul sebagai indikasi dari hati yang bersih dan sabar. Jika berinteraksi dengan orang-orang yang jarang bertemu saja, rentan menimbulkan konflik, sehingga mengharuskan kita bersabar dan berlapang dada, apalagi dengan pasangan hidup kita yang setiap hari bertemu dan bersama kita. Tentu potensi terjadinya pertentangan, kesalahpahaman dan ketidakcocokan, akan lebih besar lagi. Disinilah titik rentan kehidupan berumah tangga. Konflik rumah tangga yang tidak terkeloladengan baik, dapat meruntuhkan mahligai pernikahan.

Harta yang banyak, rumah yang mewah, dan semua fasilitas hidup yang serba cukup, tidak akan mampu memberi solusi dalam menghadapi ujian-ujian rumah tangga yang sangat membutuhkan kesabaran.

 

Dua Sisi Kehidupan Rumah Tangga

  • Sisi kehidupan yang indah, bahagia penuh romantisme, bertebaran bunga mawar dan melati yang indah dan semerbak harum aromanya, sebagaimana sering dikumandangkan dalam firman Allah:

                         “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih saying, Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (Q.S. Ar Rum:21)

  • Sisi lainnya adalah sisi ujian kehidupan. Suasana perbedaan selera dan pendapat, bahkan dapat saling membenci satu dengan yang lain, yang sering diistilahkan dengan suasana duri (saling menyakiti), empedu (pahit).

                         “Dan ketahuilah (persiapkan ilmu), bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Q.S. Al Anfal: 28)

Baca juga : Al-Quran Sebagai Pondasi Rumah Tangga

 

Bentuk-bentuk Ujian Rumah Tangga

Adapun bentuk-bentuk ujian rumah tangga yang dijelaskan dalam Al-Qur’an diantaranya sebagai berikut:

  • Sulit mencintai pasangan karena alasan-alasan tertentu.

Solusi Qur’aninya adalah bersabar, karena Allah swt. akan mengganti kesabaran dalam kondisi seperti ini dengan khairan (kebaikan) yang banyak.

                         “Dan bergaullah dengan mereka secara baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (Q.S. An Nisa: 19)

  • Melalaikan manusia dari ketaatan kepada Allah swt.

Kelalaian ini mengantarkan manusia menjadi orang-orang yang merugi. Solusinya adalah segera bangkit meningkatkan ketaatan kepada Allah, berinfak dengan harta dan mengingat kematian yang pasti datang. Allah swt. berfirman:

                         “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya, dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al Munafiqun: 9-11)

  • Keluarga menjadi musuh, disebut demikian apabila keluarga selalu menjadi penghalang dan pelambat untuk melaksanakan berbagai macam ketaatan kepada Allah.

                         “Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara istri-istri dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. At Taghabun: 14)

 

Itulah penjelasan Al-Qur’an yang seimbang tentang rumah tangga. Dan mereka yang lulus menghadapi dua sisinya, pantaslah disebut manusia terbaik.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *