SEMAKIN DALAM MENGENAL ALLAH, SEMAKIN CINTA AL-QUR’AN

“ Haa Miim. Di turunkan kitab ini ( Al qur’an ) dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui, yang mengampuni dosa dan menerima tobat lagi keras hukuman-Nya: yang mempunyai karunia. Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepada-Nyalah kembali (semua makhluk) ”(QS. Ghafir: 1-3)

 

Begitu dalam Allah SWT mencintai hamba-hamba-Nya. Karenanya Allah SWT tidak ingin melihat hamba-Nya jauh dari Al-Qur’an kitab suci-Nya. Jauh dari Al-Qur’an berarti jauh dari rahmat, karunia dan petunjuk hidup yang lurus dan benar, sehingga akhirnya hidup gelap sengsara tanpa tuntunan yang benar dan masuk neraka . Oleh karena itu, sebelum kita kaji lebih dalam ayat di atas, marilah kita bangun dulu keyakinan kita kepada Allah SWT, bahwa Allah SWT Maha Benar tidak ada keraguan dan tidak ada yang sia-sia sedikitpun dari apa yang difirmankan-Nya. Akidah seperti ini adalah pondasi yang kuat untuk membangun kehidupan yang baik bersama A-Qur’an, seperti mudah menerima semua arahan Allah SWT dan cepat dalam melaksanakannya.

 

Arahan Allah agar Manusia Menerima AL-Qur’an sebagai pedoman hidup

Jika ayat di atas diperdalam, maka terdapat 11 arahan dan pendekatan dari Allah SWT agar manusia mau dan mudah menerima  Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Terlebih bagi yang senantiasa membaca atau menjadikan Al-Qur’an sebagai wirid harian (al matsurat), dihayati dan ditadabburi dengan hati yang khusyuk, maka ia akan selalu mendapat arahan serupa. Sebelas arahan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Allah awali ayat di atas dengan huruf muqattho’ah (yaitu Haa-Miim).

Dalam  Al-Qur’an terdapat 7 surat  yang diawali dengan haa-miim (surat Ghafir, Fushilat, Asy Syura, Az Zukhruf, Ad-Dukhan, Al-Jatsiyah dan Al-Ahqaf) surat-surat seperti ini disebut sebagai hawamiim. Walaupun sebagian besar ahli tafsir tidak menafsirkan ayat ini, namun semua sepakat, bahwa maksudnya adalah untuk menegaskan kemukjizatan AL-Qur’an. Oleh karena itu hampir semua surat yang diawali dengan huruf muqattho’ah, maka ayat selanjutnya menegaskan tentang keagungan, kebenaran dan kehebatan Al-Qur’an. Perhatikan awal surat Al-Baqarah, setelah alif laam mim Allah SWT menegaskan bahwa semua isi Al-Qur’an pasti benar, tidak ada yang diragukan isinya sedikit pun. Maka tepatlah jika Al-Qur’an dijadikan petunjuk bagi orang – orang yang bertaqwa. Begitu juga di awal surat Ghafir ini, setelah haa miim, Allah SWT menjelaskan kehebatan Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah SWT yang Maha Perkasa dan Maha Mengetahui. Bagi bangsa Arab, huruf muqotho’ah adalah kalimat yang sangat menarik untuk dirasa dan didengar, sehingga pada zaman Rasulullah SAW, tidak sedikit orang-orang arab yang terkagum-kagum oleh kalimat ini, sebagian langsung beriman dan sebagian yang  lain terhalang dari keimanan karena kesombongan dan gengsinya. Sedangkan bagi kita yang tidak paham sastra arab , hendaklah langsung berusaha menangkap maksud dan tujuannya , sehingga kita tidak dirugikan, hanya karena kita bukan bangsa arab.

 

  1. Tanzilul Kitaab artinya Al-Qur’an ini diturunkan

Dalam bahasa arab disebut masdar (kata dasar). Dalam bahasa Indonesia tidak ada padanan terjemahan yang tepat untuk kata ini. Makna yang tersirat adalah penegasan bahwa Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan dari Allah SWT yang Maha Perkasa dan Maha Mengetahui. Oleh karena itu baca, pelajari dan pegang teguhlah Al-Qur’an ini. Itulah kelebihan bahasa Arab, walaupun hanya satu kata, namun di dalam nya tersirat makna yang panjang dan padat.

 

  1. Agar kita menyakini kebenaran Al-Qur’an yang telah diturunkan ini, Allah SWT jelaskan sifat-Nya yang Al – Aziiz ( Yang Maha Mulia dan Maha Perkasa )

Semua ayat-ayat Al-Qur’an memberikan  petunjuk kehidupan yang memuliakan dan memberikan kekuatan, baik pribadi maupun komunal, dunia dan akhirat. Jadi siapa saja yang berpegang teguh dengan Al-Qur’an dijamin hidupnya menjadi mulia dan kuat. Sebaliknya yang jauh dari Al-Qur’an hidupnya akan direndahkan dan dilemahkan.

 

Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda :

“ Sesungguhnya Allah SWT mengangkat derajat suatu kaum dengan Al-Qur’an dan merendahkannya  karena meninggalkannya” ( HR. Muslim dan Ibnu Majah)

 

  1. Allah Menjelaskan sifat-Nya yang Al-‘Aliim ( Maha Mengetahui )

Al-Qur’an diturunkan oleh yang Maha Mengetahui, berarti terdapat jaminan atas kebenaran semua isinya. Tidak ada satupun ayat-ayat yang ngawur , kira-kira atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena yang Maha Mengetahui pasti akan memberikan informasi yang benar , pasti dan akurat. Untuk itu kita selalu puji Allah SWT dengan kalimat Shadaqallah al Adziim( Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya)

Baca juga : Pelajaran Dari Surat Al-Kahfi

  1. Allah menjelaskan sifat-Nya yang Al-‘Aliim– Pemilik Ilmu

Berarti siapa saja yang berinteraksi dengan Al-Qur’an akan mendapatkan ilmu. Yakni ilmu yang sangat dibutuhkan oleh manusia untuk mendapatkan kebahagiaannya:

  • Ilmu mengenal Allah SWT

Ilmu ini sangat dibutuhkan, karena fitrah manusia adalah ber-Tuhan, namun masih banyak      manusia yang tersesat dari mengenal Tuhannya.

  • Ilmu mengenal tujuan hidupnya,

Kemana kehidupan ini akan berakhir. Di akhir ayat ini , Allah SWT tegaskan dengan kalimat wa ilaihi mashir( dan kepada-Nyah tempat kembali ).

  • Ilmu tentang pedoman hidupnya.

Mereka yang tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya , maka hawa nafsu dan syetan yang akan membimbingnya.

 

  1. Allah SWT menjelaskan sifat-Nya yang Ghafirudz Dzanbi ( Maha Pengampun).

Tidakkah kita tertarik dengan Al-Qur’an yang telah diturunkan oleh Allah SWT yang Maha Perkasa dan Mengetahui, tapi mudah memaafkan kesalahan hamba-hamba-Nya?

Kalau kita mentadabburi Al-Qur’an , kita akan temui bahwa Allah SWT sangat kuat mengajak manusia agar bersih dari dosa dan kesalahan. Ketika manusia belum mampu terbebas dari dosa, namun meminta ampunan Allah SWT, maka Allah SWT siap mengampuni dan menghapus kesalahannya.

 

  1. Qabilit Taubi artinya selalu menerima permintaan ampunan hamba-Nya jika diminta ampunan-Nya.

Luar biasa….. betapa baiknya Allah SWT kepada manusia . Barang siapa yang mentadabburi Al-Qur’an , ia akan merasakan betul kebaikan Allah SWT kepada hamba-Nya.

 

  1. Syadidil ‘Iqabi artinya sangat keras siksa-Nya bagi yang menolak tunduk kepada Allah SWT dan sombong di hadapan –Nya.

Sedangkan bagi yang tunduk, merendah, meminta ampunan dan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahannya , maka Allah SWT katakan sifat-KU adalah : Ghafirudz Dzambii dan Qobilit Taubi . Pemahaman terhadap tiga sifat diatas harus dapat membentuk kepribadian mumin yang memiliki sifat Arraja’ (selalu berharap) dan Al Khauf ( selalu merasa takut) sehingga seimbang dalam menjalani kehidupan ini. Selalu berharap ampunan-Nya jika bersalah dan tidak meremehkan sekecil apapun bentuk kesalahannya.

 

  1. Dzith Thauli artinya yang banyak memberikan

Allah SWT menyadarkan manusia , agar jangan lupa bahwa Allah SWT lah yang selama ini telah menyediakan berbagai macam sarana kehidupan bagi manusia. Pahamilah bahwa Al-Qur’an adalah salah satu dari sekian banyak pemberian Allah SWT –bahkan yang paling besar yang harus disyukuri, yaitu dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

 

  1. Laa Ilaaha Illa Huwa ( Tidak ada tuhan selain Allah SWT )

Jika dengan semua pendekatan diatas manusia belum juga beriman dengan Al-Qur’an maka Allah SWT mengingatkan manusia dengan kalimat tauhid yang harus menjadi keyakinan dan komitmennya, Artinya, seharusnya cukup dengan kalimat tauhid ini , manusia menyadari bahwa konsekuen tauhid yang benar adalah siap untuk tunduk kepada Allah SWT dengan semua perintah-Nya , terutama dalam hal tunduk kepada Al-Qur’an.

 

  1. Wa ilaihil mashir ( kepada Allah SWT lah semua kembali)

Pendekatan terakhir agar manusia mau kembali kepada Al-Qur’an adalah dengan mengingkatkan manusia, bahwa dirinya pasti akan kembali kepada Allah SWT . Pada saat itu nasib manusia hanya di antara dua kemungkinan bahagia atau sengsara selamanya. Namun bagi mereka yang beriman dan melaksanakan isi Al-Qur’an , maka ia akan bahagia selama nya.

Sumber : Buku Ahlul Qur’an karangan Ust. Abdul Aziz Abdur Rauf , Lc.

 

Ditulis oleh :  Ustadzah Riyanah, A.Md.
Ketua Program Rumah Qur’an Soelasmo

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *