Pelajaran Dari Surat Al-Kahfi

“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-kitab (AL-Quran)dan dia tidak mengadakan kebengkokan didalamnya.Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal sholeh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik.(QS.Alkahfi : 1-2)

Hari jumat adalah hari yang istimewa di sisi Allah Subhana Wata’ala, yang tidak diberikan kepada umat lain, walaupun mereka menginginkannya. Apakah kita sudah mengistimewakan hari jumat dengan memperbanyak amal soleh didalamnya?. Salah satu bentuk amal soleh yang di anjurkan adalah membaca surat Al Kahfi. Apa rahasia surat ini, sehingga dijadikan surat pekanan tentu ada hikmah yang besar di balik anjuran Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam ini. Salah satu di antaranya adalah agar kita terjaga dari fitnah dajjal yang sangat dahsyat di akhir zaman, yakni fitnah aqidah yang menjerumuskan manusia kedalam perbuatan syirik.

Baca juga : Faidah Bagi Penghafal Qur’an

Adapun hikmah dari tadabur surat Al-kahfi ini adalah agar manusia dapat merasakan keagungan Al-Quran, sehingga tumbuh rasa cinta dan butuh yang mendalam kepada Al-Quran. Perhatikan ayat pertama surat Al-Kahfi ini,bagaimana Allah Subhana Wataalaa mengagungkan Al-Quran.

Allah Robbul ‘Alamiin mengawali surat ini dengan bacaan hamdalah, sebagai rasa syukur atas diturunkannya Al-Quran.

Al-Quran disyukuri sebagai suatu kenikmatan yang besar. Jika untuk sepiring nasi yang kita makan saja, kita ucapkan hamdalah. Bagaimana dengan Al-Quran, yang merupakan pedoman untuk menyelamatkan diri dari api neraka dan mengantarkan manusia ke syurga Allah Subhana Wata’ala. Pertanyaannya, sudahkah kita mensyukuri turunnya Al-Quran ini sebagai nikmat Allah Subhana Wata’ala ?

Mensyukuri Al-Quran sebagai nikmat Allah Subhana Wata’ala sangat membutuhkan bukti nyata. Keinginan kita yang kuat dan nyata untuk berinteraksi dengan Al-Quran secara integral, muali dari membaca sampai menegakkannya dalam kehidupan, adalah bukti nyata bahwa kita betul-betul mengakui Al-Quran sebagai nikmat Allah Subhana Wata’ala yang besar.

Setelah Allah Subhana Wata’ala menyatakan hamdalah atas turunnya Al-Quran ini, Allah Subhana Wata’ala menjelaskan posisi Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam sebagai Al-Quran penerima Al-Quran ini, yaitu dengan kalimat ‘abdihi (hambanya).

Ini mengisyaratkan, bahwa untuk mejadi pelaksana Al-Quran yang baik, maka setiap manusia harus dapat menjadikan dirinya disisi Allah Subhana Wata’ala sebagai manusia yang berkriteria ‘abdihi (hambanya). Untuk meraih posisi ini, tidak ada lain, kecuali harus dengan menghambakan diri kepada Allah Subhana Wata’ala, dengan meningkatkan ketakwaan yang sesungguhnya.

Apakah yang dimaksud dengan abdihi? Kata dasar abdihi adalah ubudiyah, yakni penghambaan yang sempurna disisi Allah Subhan Wata’ala.

Sesungguhnya setiap manusia yang telah menyatakan dua kalimat syahadat, merenungkannya dengan baik serta menerapkannya dalam kehidupan nyata, maka otomatis ia telah mencapai ubudiah yang baik.

Jadi manusia yang belum sepenuhnya menghambakan dirinya kepada Allah Subhana Wata’ala, mustahil dapat merasakan kenikmatan Al-Quran.

Kenikmatan Al-Quran akan mengantarkan manusia kepada kemampuan untuk berinteraksi dengannya dalam berbagai arahannya. Sehingga tunduk dan khusyuk lah jiwa dan hatinya, bahkan kulitnya pun merinding karena takut kepada Allah Subhana Wata’ala. Kondisi inilah yang akn mengantarkan manusiauntuk siapmemperjuangkan Al-Quran agar tegak dalam kehidupannya.

Rasa syukur dan peghambaan kepada Allah Subhana Wata’ala akan melahirkan keyakinan bahwa Al-Quran ini kitab yang lurus, tidak akan ada arahan – arahan yang menyimpang.

Selanjutnya manusia akan betul-betul merasakan fungsi Al-Quran sebagai pemberi peringatan dan pemberi kabar baik kepada orang-orang yang beriman (bahwa mereka mendapat pahala).

Fungsi Al-Quran yang berjalan aktif, akan menjadi sumber motivasi dalam beramal yang tidak ada habis-habisnya.

Selanjutnya prinsip-prinsip di atas akan menjadikan isi surat Al-Kahfi mudah untuk dipahami dan ditadabburi dengan sebaik-baiknya. Surat Al Kahfi ini sebagian besarnya menjelaskan kisah sebagai berikut:

*Kisah as-habul Kahfi (tujuh pemuda yang melarikan diri dari kejahatan penguasa pada zamannyan, untuk menyelamatkan aqidahnya).

*Kisah dua manusia bersaudara yang satu mu’min dan yang lainnya kafir, dalam menyikapi kehidupan dunia.

*Kisah musa as menimba ilmu dari khidir.

*Kisah Dzul Qornain yang menguasai timur dan barat bumi, namun sangat melayani rakyat.

Kisah-kisah diatas harus mengantarkan kepada nilai-nilai quraniyyah sebagai berikut:

  • Keimanan kepada Allah Subhana Wata’ala yang lebih dalam dan benar-benar bersih dari syirik.
  • Keyakinan yang lebih dalam terhadap semua bentuk-bentuk keimanan terhadap hari akhirat.
  • Pemahaman yang lebih dalam tentang hakikat kehidupan dunia, yang sangat menggiurkan dan menjerumuskan. Sehingga harus meningkatkan kewaspadaan.
  • Keimanan yang mendalam, bahwa amal soleh adalah bekal yang terbaik untuk menyongsong kehidupan akhirat yang baik dan membahagiakan.

 

 

Sumber :

Judul Buku : YA ALLAH  …..JADIKAN KAMI AHLUL QURAN
Penulis : Abdul Aziz Abdur Rauf, Lc.
Ditulis Kembali Oleh : Ustadzah Sunarti, S.Pd., Guru di Rumah Qur’an Ihya Ul Ummah

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *