Nama-Nama Al-Qur’an yang Menunjukkan Hakikat Zat Al-Qur’an Part I

nama al quran

Ada sejumlah nama yang menunjukkan hakikat zat Al-Qur’an sebagaimana dijelaskan oleh Al-Qur’an sendiri. Nama-nama itu adalah sebagai berikut.

Nama-Nama Al-Qur’an yang Menunjukkan Hakikat Zat Al-Qur’an Part I

Ada sejumlah nama yang menunjukkan hakikat zat Al-Qur’an sebagaimana dijelaskan oleh Al-Qur’an sendiri. Nama-nama itu adalah sebagai berikut.

Al Kitab

Al-Qur’an disebut al kitab dari akar kata “kataba” yang berarti menulis dan mengumpulkan. Ia menghimpun, membenarkan, dan jadi alat uji atas kebenaran kandungan kitab-kitab suci yang datang sebelumnya atau kitab apa pun di muka bumi yang berbicara tentang ketuhanan, manusia dan alam semesta. Allah Ta’ala mengukuhkan pernyataan itu dengan berfirman sebagai berikut.

“Dan kami telah menurunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu. (QS. Al-Maidah: 48)

Ibnu Mas’ud mengomentari bahwa yang dimaksudkan dari ‘batu ujian’ adalah ukuran untuk menentukan benar tidaknya ayat-ayat yang diturunkan dalam kitab-kitab sebelumnya. Kenapa demikian? Alasannya adalah ayat-ayat yang ada di dalam kitab-kitab suci yang turun sebelumnya sudah terindikasi mengalami perubahaan oleh tangan-tangan para pemimpin agama mereka. Mereka menulis dengan tangan mereka sendiri ayat-ayat buatan mereka dengan cara menambahkan atau mengurangi ayat yang sudah ada, tetapi kemudia mereka mengatakan, “Ini datang dari Tuhan.” Alangkah besar dusta yang telah mereka perbuat itu.

Al-Qur’an disebut dengan Al Kitab juga berarti ‘Menghimpun’ karena Al-Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang menghimpun semua aturan kehidupan. Jika dipelajari dengan akal yang jernih dan hati yang bersih, seluruh kitab suci yang ada dimuka bumi dan juga kitab hukum yang dibuat oleh manusia sejak zaman dahulu hingga sekarang, hanya Al Kitab-lah (Al-Qur’an) panduan hidup yang paling sempurna, yang tidak sedikit pun meninggalkan ruang bagi siapapun untuk mengisinya. Semua tata aturan kehidupan ada di sana, mulai masalah peribadahan, moral, sosial, budaya, kemasyarakatan, kenegaraan dan banyak lagi. Ini disebabkan Al-Qur’an diturunkan kepada nabi terakhir yang menutup semua garis kenabian sehingga isinya serba sempurna dan mencakup semua lini dan aspek kehidupan.

Al Qur’an

“Sesungguhnya, Al-Qur’an ini memberikan petunjuk ke (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS. Al Isra: 9)

Imam Asy Syafi’I, Ibnu Katsir, dan yang lainnya meyakini bahwa Al-Qur’an sama posisinya dengan kitab Injil, Zabur dan Taurat, sebuah nama yang tidak memiliki asal kata. Ahli tafsir lain berpendapat bahwa Al-Qur’an berasal dari kata qa-ra-a yang kemudian dilekatkan pada apa yang diturunkan pada Rasul Muhammad SAW. Pendapat ini didukung Hassan bin Tsabit dan Al Lihyani. Sementara itu, yang lain berpendapat bahwa Al-Qur’an berasal dari kata qur’u yang berarti ‘mengumpulkan’ (lisanul arab 1/128).

Ibnu Atsir mengatakan, “Dinamakan AL-Qur’an karena mengumpulkan kisah-kisah, perintahh dan larangan, janji dan ancaman, ayat dan surat yang saling melengkapi (an nihayah fi gharibil hadits wal atsar 4/30).” Pendapat lain mengatakan Al-Qur’an berasal dari kata qarn karena Al-Qur’an menyatukan surat, ayat dan huruf. Pendapat terakhir mengatakan bahwa “Al-Qur’an” berasal dari kata qara’in karena yang satu membenarkan dan serupa dengan yang lain.

Para ulama kemudian mendefinisikan Al-Qur’an sebagai “Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang lafaznya merupakan mukjizat, membacanya adalah ibadah, tertulis dalam mushaf, dan tersebar dengan cara mutawatir”. Inilah batasan atau definisi yang sudah disepakati oleh seluruh ulama dari mazhab apa pun tanpa ada perbedaan sedikit pun.

Yang menjadi keunikan AL-Qur’an adalah ia mampu mengarahkan siapa pun yang disukai ke jalan yang lebih lurus, bahkan menjanjikan kepada mereka yang beriman dengan balasan tidak terbilang. Ini adalah sebuah tanda bahwa ia bukan bacaan biasa. Semua yang dikandungnya memiliki kedahsyatan yang luar biasa hebatnya.

Baca juga : Berbaik Sangka Kepada Allah

Kalamullah

“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah. Kemudian, antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (QS. At-Taubah: 6)

Berasal dari kata kalm yang bermakna pengaruh. Al-Qur’an disebut kalamullah karena ada pengaruh khusus dari Allah Ta’ala di benak pembaca dan pendengarnya. Pengaruh ini belum pernah ada sebelumnya (Fadhailul Quranil Adhim: 67). Pengaruh itu bernama tauhid yang merupakan sumber rasa aman dan pengetahuan. Setiap kali dibacakan Al-Qur’an para pendengar yang akal dan hatinya bersih dan terbuka, akan turun ke dalamnya rasa aman dan tentram karena merasakan kedekatan dengan Allah Ta’ala. Dia sedang berada benar-benar di bawah pengaruhnya.

Ar Ruh

“Dan demikianlah kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah Al Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya yang kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. Sesungguhnya, kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy-Syura: 52)

Ibnu Faris dalam kitab mu’jam-nya menuturkan, “Ar Ruh berarti luas dan melebar, yang bersumber dari kata ar rih atau ‘angin’.” (Mu’jam Maqayis lughah I: 494)

Abu Sa’ud memaknai kata ruh dalam ayat 52 surat Asy Syura dengan Al-Qur’an bagi hati sebagaimana ruh terhadap fisik manusia akan menghidupkannya dalam kehidupan abadi (Tafsir Ibnu Saud 8:38). Ruh dalam ayat ini ditanwinkan untuk menunjukkan keagungan. Jadi, bukan sembarang ruh, melainkan ruh yang agung, ruh yang menghidupkan hati, mengusung kebaikan dunia-akhirat. Sebuah karunia agung Allah Ta’ala kepada para utusan-Nya dan kaum mukminin tanpa sedikit pun usaha mereka. Bahkan, Allah Ta’ala mengingatkan bahwa sebelumnya kita tidak pernah tahu tentang kitab-kitab sebelumnya, tentang iman, dan syariat keilahian. Sejarah juga menjadi bukti, Muhammad seorang  ummi, tidak bisa baca tulis.

Ruh yang Allah Ta’ala gambarkan, “Kami jadikan ia cahaya yang akan menunjuki hamba-hamba yang Kami kehendaki.” Dengannya kemudian bidah terungkap, syirik terurai, dan jalan yang lurus terhampar. Ruh yang dibutuhkan semua manusia yang lalai oleh kesombongan lumpuh oleh keserakahan, ruh kehidupan yang menentramkan (Al Huda Wal Bayan Fi Asma’il Quran 2: 45). Ruh yang ketika hilang dari tubuh kita hanya membuat kita mati walaupun kita makan dan minum. Inilah ruh yang memelihara dan menjaga kehidupan hati kita. Jika hati kita tidak diisi dengan ruh (membaca tadabbur Al-Qur’an), hati kita pun akan mati.

Baca juga : Keajaiban Sedekah dan Menyayangi Anak Yatim

 

Dikutip dari Meraih Mutiara Al-Qur’an karya Ustadz Bachtiar Nasir

Leave a Reply

Your email address will not be published.