Kita Punya Keinginan, Allah Yang Menentukan

“Sesungguhnya Dia-lah yang menciptakan (mahluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang mempunyai ‘Arsy, lagi Maha Mulia, Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya”

(Q.S. Al Buruj: 13-16)

 

  • Memahami Sifat Allah

Ayat di atas adalah panduan yang luar biasa dalam menjalani kehidupan. Ayat ini mengajak manusia untuk benar-benar menyerah dan tunduk sepenuhnya kepada ketentuan Allah swt. Tugas manusia hanyalah berusaha dan berdoa. Namun hasil akhirnya, sepenuhnya di tangan Allah swt. Yakinlah bahwa ketentuan Allah-lah yang terbaik. Maka Allah swt. memperkenalkan diri-Nya dengan beberapa sifat-sifat sebagai berikut:

  1. Allah adalah Maha Pencipta. Dialah yang memulai semua ciptaan-Nya dan Dialah yang Maha Kuasa untuk mengulanginya
  2. Allah Maha Mengampuni semua kesalahan-kesalahan hamba-hamba-Nya
  3. Allah memberikan kasih saying yang melimpah kepada mahluk-Nya
  4. Allah yang Maha Mulia yang berada di ‘Arsy yang mulia.

Dengan semua sifat di atas, sangatlah pantas dan berhak Allah swt. memiliki sifat Maha Berbuat apa saja yang Dia kehendaki. Sifat-sifat di atas pun memberikan jaminan bahwa kehendak Allah swt. pastilah baik dan tidak akan menzalimi atau menyengsarakan manusia. Maka tingkatkanlah keimanan kita kepada Allah swt., agar kita tidak merasa sengsara dalam menjalani kehidupan ini, karena yang kita jalani pasti yang terbaik dari Allah swt.

Baca juga : Setiap Manusia Satu dengan yang Lain Menjadi Ujian

 

  • Jodoh adalah Bagian dari Ketentuan Allah

Jodoh atau pasangan hidup manusia, penentuannya adalah hak Allah swt. semata. Manusia hanyaberusaha dan berdoa dengan harapan yang terbaik. Namun di sisi Allah swt. yang terbaik menurut kita, belum tentu yang terbaik bagi Allah swt, begitu juga sebaliknya. Allah swt. berfirman:

                          “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah: 216)

 

Al-Qur’an menjelaskan tentang 4 model jodoh –ketentuan Allah- yang biasanya dialami manusia. Allah swt. jelaskan kondisi ini agar menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman:

                          “Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan dua orang hamba yang saleh di anatara hamba-hamba kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing). Maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk (Jahannam)”. Dan Allah membuat istri Fir’aun (sebagai) perumpaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim. Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabb-Nya dan Kitab-kitab-Nya dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.” (Q.S. At Tahrim: 10-12)

Firman-Nya yang lain:

                          “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tentram kepadanya, dan Allah jadikan di antara kamu rasa kasih dan saying. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikit.” (Q.S. Ar Rum: 21)

 

Apapun kondisinya jika disikapi dengan keimanan yang baik, akan menghasilkan syukur, sabar dan husnuzhon (prasangka baik) kepada Allah swt. Tadabbur ayat di atas adalah sebagai berikut:

  • Nabi Nuh as. dan Luth as. adalah contoh pasangan suami yang baik, namun memiliki istri yang tidak sesuai harapan. Namun mereka berhasil menjadi suami yang sabar, selalu istiqomah dan berusaha membimbing keluarga, tidak terbawa oleh kondisi istri yang tidak taat kepada Allah swt. Walaupun akhirnya istrinya tetap bertahan di dalam kesesatannya, bahkan Allah swt. menyebut sang istri sebagai ahli neraka.
  • Istri Fir’aun (Aisyah binti Muzahim) adalah contoh istri yang salehah, sedangkan suaminya sangat tidak taat kepada Allah. Namun justru dengan bersuamikan Fir’aun lah, yang mengantarkan Aisyah sebagai mukminah yang bersabar dan wafat sebagai syahidah di jalan Allah swt.
  • Maryam binti Imran adalah contoh muslimah yang sampai akhir hayatnya tidak mendapat jodoh. Tentu wanita manapun tidak menghendaki kondisi seperti ini. Namun dengan kesabarannya, justru kondisi ‘jomblonya’ yang mengantarkannya disebut sebagai minalqanitiin (laku-laki yang taat). Mengapa Maryam tidak dipanggil qanitat (wanita yang taat). Karena wanita disebut Rasulullah saw. Sebagai naqishahatud diin (tidak sempurna agamanya), maksudnya adalah karena setiap bulan wanita tidak dapat melaksanakan shalat, dan setiap tahun tidak dapat melaksanakan puasa secara penuh karena haid. Namin bagi Maryam, karena hidupnya diisi dengan semangat ibadah yang tinggi dan intensif –hingga ia dikenal dengan sebutan al Batuul (manusia yang banyak beribadah)- maka dirinya mampu menutupi kekurangannya.
  • Profil rumah tangga yang keempat, adalah rumah tangga yang diharapkan oleh setiap manusia, yaitu rumah tangga yang serasi, sebagaimana yang dijelaskan dalam surat Ar Rum ayat 21. Suami dan istri saling membahagiakan satu dengan yang lain. Tentu bukan berarti tidak ada tantangan, namun dibandingkan dengan tiga kehidupan di atas, jenis keempat ini, jauh lebih ringan ujian dan tantangannya. Kepada mereka yang dikaruniai rumah tangga seperti ini, sudah serius menghasilkan generasi yang saleh dan salehah yang memberi manfaat yang besar bagi umat.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *