KELELAHAN YANG MEMBAHAGIAKAN

Di dalam surat At-Taubah  ayat 120, Allah SWT berfirman :

Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah` dan orang-orang Arab Badui yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah ( berperang ) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak ( pula ) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir , dan tidak, menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shaleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-yiakan pahala orang-orang yang berbuat baik .”

 

Agar kelelahan itu bermakna

                Semua manusia pasti pernah merasa lelah, sedih, haus, lapar, sakit dan lain-lain. Tapi apakah semua manusia mendapatkan pahala dari kondisi manusiawinya ini ? Al-Qur’an akan membimbing kita, menjadikan semua kondisi manusiawi ini menjadi lebih berkualitas, berbobot dan menghasilkan pahala  dan balasan yang besar di sisi Allah SWT. Untuk itu dijadikan hidup ini aktif bergerak di jalan Allah SWT . Jadikan semua kelelahan kita karena selesai melaksanakan ketaatan kepadah Allah SWT, lelah karena qiyamul lail, tilawah, dzikir dan lain sebagainya. Kelelahan fi sabilillah itu meningkat sangat tinggi saat amal shalehnya berupa dakwah menyebarkan hidayah Allah SWT. Mengajarkan Al-Qur’an kepada umat , membina keislaman dan keimanan  umat pasti pekerjaan yang sangat melelahkan lahir dan batin, berbagai aktifitas dakwah itu melelahkan karena setiap dai pasti mengalami kondisi sebagai berikut :

  • Bertambah jam kerjanya karena ia tidak hanya sibuk dengan urusan pribadi dan keluarganya, namun juga mengurus kehidupan umat, demi tersebarnya hidayah Allah SWT.

 

  • Hambatan dan rintangan yang sangat bervariasi saat menjalankan dakwah, baik datang dari obyek dakwahnya ataupun dari masyarakat. Target rintangan itu, tidak ada lain agar sang dai berhenti dari kegiatannya. Jadi alih-alih disambut atau diapresiasi, yang ada adalah disakiti dan dicitrakan secara negatif. Nabi Nuh dicitrakan “sesat”, Nabi Hud dicitrakan kurang waras dan Rasulullah SAW dicitrakan gila.

 

  • Waktu yang panjang , berdakwah tidak cukup sebulan dua bulan, atau setahun dua tahun, dakwah harus berlangsung sepanjang hidup, begitu panjang masa kerjanya, sering kali seorang dai diingatkan agar hanya fokus pada kerja, jangan berharap hasil. Karena yang akan diapresiasi oleh Allah SWT adalah kerja dan prosesnya bukan hasilnya.

“ Dan katakanlah : Bekerjalah kamu , maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu`kmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS At-Taubah :105)

Baca juga : SEMAKIN DALAM MENGENAL ALLAH, SEMAKIN CINTA AL-QUR’AN

Usir Kelelahan Berdakwah dengan Al-Qur’an

Jadi bagaimana solusinya agar kita tidak mengalami kelelahan dalam kerja dakwah yang melumpuhkan jiwa dan raga? Rasulullah SAW adalah contoh yang paling nyata dalam masalah ini, sedih dan lelah adalah kondisi yang selalu dirasakan oleh beliau. Bagaimana cara Rasulullah SAW mengobati kesedihan dan kelelahannya dalam membimbing umat?

Tadabbur ayat-ayat Al-Qur’an

                Menghibur diri dengan ayat-ayat surga

Meningkatkan cintanya kepada umat dan mendoakannya.

 

Bukan lelah, tapi seimbang

                Seorang dai yang mengalami kelelahan dan dirundung kesedihan yang mendalam karena kerja dakwahnya, bukanlah karena semata-mata faktor obyek dakwahnya yang melemahkannya. Tapi karena telah terjadi ketidakseimbangan antara jiwa sang dai dan permasalahannya. Sehingga solusinya adalah dengan meningkatkan kapasitas maknawiyahnya  dai agar seimbang bahkan melebihi bobot permasalahannya. Saat itulah seorang dai dapat merasakan bernikmat-nikmat dengan kelelahan dakwah ( yataladzadzuna bimata’bid dakwah) yang penting janganlah kita membesar-besarkan faktor kerja dakwah  sebagai pemicu dari kelelahan  dan kesedian. Begitu juga janganlah pikiran kita fokus pada hal-hal yang menyedihkan dan melelahkan saja, padahal masih banyak suasana kerja dakwah yang menyenangkan dan menghibur kita. Jadi seimbanglah dalam melihat suatu permasalahan, kesedihan dan kelelahan sesungguhnya terjadi karena kita adalah manusia yang normal dan sehat, buktinya orang kafir , orang jahat dan orang yang pasif tidak terlibat dakwah , juga dapat merasa sedih dan letih dalam hidup nya.

 

Sumber : Buku Ahlul Qur’an karangan Ust Abdul Aziz Abdul Ro’uf , Lc.

 

Ditulis oleh :  Ustadzah Riyanah, A.Md.
Ketua Program Rumah Qur’an Soelasmo

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *