Menumbuhkan Keinginan Hidup Bersama Al-Qur’an part II

al quran

Menumbuhkan Keinginan Hidup Bersama Al-Qur’an part II

Rasulullah SAW bersabda: “Bukanlah iri hati kecuali menginginkan dua kenikmatan: kenikmatan Al-Qur’an yang diberikan Allah kepada seorang laki-laki, kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang. Dan seorang laki-laki yang Allah berikan kepadanya harta dan ia menginfakkannya sepanjang malam dan siang.” (Muttafaqun alaih)

Bersyukurlah kepada Allah SWT atas hidayah Al-Qur’an yang sudah kita dapatkan. Namun ketahuilah bahwa masih ada bentuk lain dari hidayah Al-Qur’an yang jauh lebih besar. Yaitu bertahan (istiqomah) dengan apa yang sudah kita dapatkan dari kenikmatan Al-Qur’an. Jangan pernah merasa puas, karena kalau kita melihat kehidupan para sahabat sebagai murid-murid Rasulullah SAW, maka apa yang sudah kita capai saat ini akan terlihat sebagai kenikmatan bersama Al-Qur’an yang masih kecil dan baru permukaannya saja.

Bentuk Keinginan Besar untuk Hidup bersama Al-Qur’an

Jadi baagimana agar kenikmatan ini menjadi lebih besar, bahkan menjadi luar biasa besar? Yakni dengan memperbesar mujahadah (kerja keras) untuk meraihnya. Berikut ini bentuk-bentuk keinginan Qurani yang lebih besar dan sangat memerlukan mujahadah untuk meraihnya:

  • Keinginan untuk terus sibuk dan istiqomah beribadah dengan Al-Qur’an sampai akhir hayat.

Hal ini merupakan prestasi keimanan yang luar biasa. Karena tidaklah seorang berhasil istiqomah bersama Al-Qur’an, kecuali dirinya telah terbiasa dengan akhlak sabar dalam ketaatan kepada Allah SWT. Sehingga dengan Al-Qur’an, ia berhasil menghadapi berbagai macam rintangan dan godaan untuk selalu bersama Allah SWT.

  • Keinginan untuk meningkatkan amal saleh dan ibadah yang terkait langsung dengan Al-Qur’an.

Misalnya ibadah tilawah yang tidak lagi sebulan sekali khatam, tapi menjadi lebih dari satu kali, bahkan bisa 4 kali, seperti umumnya para sahabat. Sedangkan pada waktu malam, Al-Qur’an dibaca di dalam shalat tahajjudnya, dari awal sampai akhir, sepanjang hayatnya.

  • Keinginan untuk memahami seluruh ayat-ayat Al-Qur’an, mulai dari terjemahan sampai tafsirnya.

Sehingga menjadi orang yang pandai berisytisyhad (mampu menghadirkan ayat dalam berbagai situasi dan kondisi).

  • Keinginan yang besar untuk menjadikan Al-Qur’an dicintai dan diamalkan oleh seluruh lapisan umat manusia.

Baca juga : Menumbuhkan Keinginan Hidup Bersama Al-Qur’an part I

Sehingga mengharuskan diirinya untuk sibuk dan selalu mendakwahkan Al-Qur’an diseluruh lapisan umat. Puncaknya adalah ketika Al-Qur’an diamalkan oleh umat manusia di seluruh dunia.

Itulah keinginan-keinginan besar yang mutlak harus dimiliki oleh mereka yang sudah sibuk dengan Al-Qur’an. Sehingga dirinya menjadi pribadi yang Qur’ani secara tilawatan, hifdzhan, fahman, ibadatan, tadabburan, dakwatan, dan jihadan. Sekaligus menjaga dirinya dari futur (melemah) dari Al-Qur’an.

Salah satu upaya agar kenikmatan yang sudah kita dapatkan menjadi lebih besar bobotnya adalah jangan sampai kita focus hanya melihat tokoh-tokoh yang ada di sekeliling kita. Karena boleh jadi, kemampuan yang ada dalam diri kita jauh lebih besar dari tokoh yang kita kenal dan kagumi. Sehingga akhirnya kita tidak dapat berkembang lebih besar lagi, karena kita sudah puas dengan apa yang sudah kita dapatkan.

Teladan dari Para Sahabat

Mari teladani murid-murid Rasulullah SAW yakin para sahabat, yang kemampuannya hampir-hampir tidak masuk akal, menurut manusia zaman sekarang. Misalnya:

  • Abdullah bin Amr Al-Ash, yang mampu mengkhatamkan Al-Qur’an tiga hari sekali, dari masa mudanya sampai akhir hayatnya.
  • Ubay bin Ka’ab begitu dekatnya dengan Al-Qur’an, sampai-sampai Allah SWT mengirim salam kepadanya lewat Rasulullah SAW.
  • Begitu juga Salim Maula Abi Hudzaifah, sahabat yang diangkat oleh Rasulullah SAW sebagai asistennya dalam penga-jaran Al-Qur’an. Beliau memiliki peran yang sangat besar dalam jihad melawan orang-orang yang murtad pada zaman Abu Bakr.
  • Abdullah bin Mas’ud dengan perawakannya yang kecil, sehingga ketika betisnya tersingkap, ditertawakan oleh para sahabat, karena begitu lucunya. Namun akhirnya Rasulullah SAW menegur para sahabat:

“Kalian menertawakan kecilnya betis Abdullah bin Mas’ud, ketahuilah sesungguhnya betis Abdullah bin Mas’ud di sisi Allah lebih berat dari gunung Uhud.”

Hal ini tidak terlepas dari amalnya yang sangat aktif mengajarkan Al-Qur’an.

Baca juga : KHADIJAH BINTI KHUWAILID Part II

 

Dikutip dari Ya Allah.. Jadikan Kami Ahlul Qur’an karya Abdul Aziz Abdur Rauf, Lc dengan beberapa perubahan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *