Jauhnya Manusia Dari Al-Qur’an

Penyebab Menjauhnya Manusia Dari Al-Qur’an

Mengapa ada manusia yang menjauh dari Al-Qur’an, sehingga Al-Qur’an menjauhinya? Dapat kita simak pada penggalan surat Adz-Dzariyat yang fokus pada kepastian adanya hari akhirat, sehingga manusia yang lemah keimanannya terhadap hari akhirat, akan lemah pula kedekatannya dengan Al-Qur’an.

Kelemahan keimanan kepada hari akhirat disebabkan karena keengganan manusia untuk menggali ilmu pengetahuan yang telah disediakan Allah SWt, baik dari Al-Qur’an maupun dari hadits, yang sangat luas menjelaskan suasana kehidupan akhirat. Jangankan diri kita sebagai manusia biasa, Rasulullah SAW pun, kalau saja bukan karena wahyyu Allah SWT, beliau tidak akan mengetahui isi Al-Qur’an dan hal-hal lain yang harus diketahui dan diimani. Allah SWT berfirman :
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia, siapa yang Kami kehendaki diantara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan” (QS. Asy-Syura : 52-53)

Inilah salah satu fungsi Al-Qur’an dalam kehidupan manusia, agar menjadi cahaya bagi manusia yang sedang dalam kehidupan yang gelap. Sungguh musibah besar bagi manusia yang dijauhi Al-Qur’an. Agar kita terhindar dari musibah besar tersebut, maka pada artikel ini, kita kan fokus membahas surat Adz-Dzariyat, yang spesifik menjelaskan fenomena menjauhnya Al-Qur’an dari kehidupan manusia.

Baca juga : Keistimewaan Al Qur’an

Yakini Al-Qur’an, Maka Akan Yakin Dengan Kehidupan Akhirat

Perhatikanlah sumpah-sumpah Allah yang terkandung pada surat Adz-Dzariyat. Berapa kali Allah bersumpah? Allah bersumpah untuk memastikan bahwa negeri akhirat dengan semua peristiwanya adalah keniscayaan yang akan dialami manusia. Sedangkan rujukan untuk mengetahui negeri akhirat dan meyakini peristiwa-peristiwanya, tidak lain adalah Al-Qur’an. Jadi siapa  yang yakin dengan Al-Qur’an, pasti yakin dengan kehidupan akhirat.

Oleh karena itu, Allah menyebut Al-Qur’an sebagai rahmat. Artinya, betapa luar biasanya kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya. Agar manusia bahagia hidup di akhirat, tidak dibiarkan tanpa penjelasan. Bahkan berbagai macam sarana disediakan, agar manusia jangan sampai sengsara di akhirat, karena kesengsaraan di sana, adalah kesengsaraan yang abadi.

 

Petunjuk Agar Manusia Meyakini dan Mempersiapkan Kehidupan Akhirat

Allah menyediakan lima daya dukung agar manusia meyakini dan mempersiapkan kehiupan akhiratnya. Lima daya dukung tersebut adalah :

  1. Allah mengutus para Rasul dan anbiya untuk langsung menjelaskan kehidupan yang abadi ini. Mereka bersabar walaupun harus menerima perlakuan yang menghinakan dari manusia yang menentang dan menolak tugas mulia ini.
  2. Allah SWT menurunkan berbagai macam wahyu-Nya, terutama Al-Qur’an yang selalu dianjurkan untuk dikaji dan dibaca sepanjang masa.
  3. Allah memberikan penjelasan melalui Rasulullah tentang keutamaan-keutamaan melaksanakan wahyu-Nya. Semua ini agar manusia mau mengkaji dan membaca Al-Qur’an.
  4. Allah memuliakan hamba-hambaNya yang aktif ikut mensosialisasikan tentang kehidupan akhirat kepada manusia, dengan pahala yang besar dan tidak terputus.
  5. Penjelasan-penjelasan yang sangat variatif agar manusia mau meyakini dan mempersiapkan kehidupan akhiratnya. Misalnya : penjelasan Allah tentang ke-Mahakuasa-anNya dalam menciptakan alam semesta, Allah bersumpah berulang-ulang dalam banyak surat dan lain sebagainya.

Begitu besarnya kasih sayang Allah, sehingga manusia benar-benar dimotivasi sedemikian rupa untuk hidup bersama Al-Qur’an demi kepentingan manusia itu sendiri. Maka jika manusia menolaknya, berarti dia menolak kebaikan Allah yang luar biasa.penolakan itu timbul dapat karena kesombongan, atau merasa  mampu mengatasi sendiri kehidupannya di akhirat. Sudah sewajarnya jika dikatakan bahwa manusia seperti  initidak layak untuk diakrabkan dengan Al-Qur’an. Maka Allah tetapkan mereka sebagai manusia yang dijauhkan dari Al-Qur’an. Dijauhkan dari segala-galanya : mengimani, membaca, mentadabburi, bahkan semua yang terkait dengan Al-Qur’an.

Tidaklah kita takut dan khawatir mengalami kondisi seperti itu? Waspadalah. Ternyata saat manusia enggan hidup dengan Al-Qur’an, Al-Qur’an pun enggan hidup dengannya. Dampaknya adalah jauh dari hidayah Allah, selanjutnya sengsara di dunia dan akhirat.

 

 

Sumber : Ya Allah Jadikan Kami Ahlul Qur’an, Abdul Aziz Abdur Rauf, Lc.

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *