Hambatan – Hambatan dalam Menghafal Al-Qur’an

Meskipun Allah telah memudahkan Al-Qur’an untuk dihafal dan telah dibuktikan oleh banyak orang, namun bagi sebagian yang lain aktifitas ini masih danggap masalah. Biasanya setiap orang yang menghafal Al-Qur’an pasti merasakan kesulitan ketika menghafal kalimat, ayat, atau surat tertentu. Kenapa? Hal ini karena sebagian komposisi huruf, kombinasi kata demi kata, maupun hubungan antar ayat dalam Al-Qur’an dapat menimbulkan permasalahan tersendiri. Namun, ‘kesukaran’ ini wajar karena orang arab juga mengalami hal serupa. Apalagi orang ‘ajam (Non Arab).

Disinilah ilmu tajwid membuktikan relevansinya karena menurut Imam Al-Muradi, inti dari ilmu tajwid adalah “Mengetahui Makhroj huruf dan sifatnya, memahami fenomena eksternal dan kolaborasi antarhuruf maupun sifatnya, melenturkan organ suara dan melatihnya secara kontinu.” Jadi, dengan mendalami ilmu tajwid, kesulitan dalam bacaaan akan dapat diatasi sehingga mempermudah hafalan kita.

Baca juga : Agar Al-Qur’an Membahagiakan Jiwa Kita

Adapun solusi dari kesulitan menggabungkan ayat dapat dbantu dengan mecermati hubungan ayat yang sering dikaji serius oleh ilmu Al-Qur’an (Ulumul Qur’an) dalam tema munasabat al-Ayat wa as-Suwar (Kesesuaian antara Ayat dan Surat). Memahami korelasi ayat atau surat, dimulai dari kecenderungan minat masing-masing. Bagi yang suka Bahasa, korelasi ayat atau surat dapat diidentiifikasi dengan melihat kata-kata penghubung seperti : hadza, dzalika, fa, laqad, ila, stsumma, innama, falamma, dan lain sebaginya. Bagi yang suka retorika atau stilistika (balaghah) dapat mencermati karakteristik redaksi Al-Qur’an. Misalnya dalam konteks cerita (qashah) kita mengenal prosa narasi, deskrisi, argumentasi, dan lain-lain. Bagi yang suka berfantasi, dapat menelaah kategori ayat-ayat makkiyah dan madaniyah, lalu berusahalah seakan-akan kita sendiri yang mengalami langsung saat turunnya wahyu. Dengan begitu, “Perangko hafalan” dapat melekat dalam lembaran memori kita.

Corak ayat yang selalu menjadi “musuh bebuyutan” para penghafal Al-Qur’an adalah kalimat atau ayat yang sering diulang (takrar) serta mempunyai redaksi mirip (mutasyabihat). Lagi-lagi pemahaman terhadap maksud ayat adalah solusinya. Karena muraja’ah (mengulang-ulang hafalan) meskipun sangat penting terkadang hanya menjadi “aspirin” dengan kadar rendah. Jadi, suatu saat pusing itu akan muncul kembali. Dengan mentadabburi ayat-ayat yang sering diulang atau memiliki redaksi mirip, kita dpat melempar dua manga dengan satu kerikil. Yakni, hafalan kita lebih melekat dan mendapatkan siraman rohani yang begitu nikmat.

Konkretnya dapat dicontohkan pada kisah Nabi Musa. Kita semua tahu bagaimana beliau bertarung melawan para penyihir Fir’aun. Kita juga hafal kronologi dan episode kisah tersebut. Dalam beberapa surat, kisah ini diulangi dengan redaksi yang mirip. Menarik untuk disimak, kata yang dipilih Alah Swt untuk melukiskan ular jelmaan tongkat Nabi Musa. Dalam surat Al-A’raf (ayat 107), ular diungkapkan dengan kata tsu’ban (ular besar) sementara dalam surat Thaahaa (ayat 20) diungkapkan dengan kata hayyah (ular kecil) dan dalam surat al-Qashah (ayat 31) diungkapkan dengan kata jann (Ular yang mengerikan).

Rentetan ayat sebelum dan sesudah kata “ular” dalam ketiga surat tersebut bisa jadi bakal mengerutkan dahi sebagian penghafal Al-Qur’an lantaran banyak ayat kemiripan dan perulangan. Akibatnya, mereka mungkin jadi malas mengulang hafalan. Tapi, mari kita hayati bersama, Sahabat.

Kata Tsu’ban sangat tepat untuk dirangkai dalam ayat ke 107 surat Al-A’raf. Karena konteksnya saat itu nabi musa ditantang oleh para penyihir Fir’aun. Seakan mereka mengatakan kepada Nabi Musa, “manakah bukti kerasulanmu?” Maka, Nabi Musa melempar tongkatnya dan berubah menjadi ular besar. Adapun ayat ke 20 surat Thaahaa, diturunkan untuk menghibur Nabi Muhammad yang sedang sedih, jadi, dipilihlah diksi kata hayyah (ular kecil). Sementara dalam kisah surat al-Qashah ayat ke 31. Kata jann (ular mengerikan) digunakan agar sesuai dengan ayat selanjutnya, yang mendeskripsikan ketakutan Nabi Musa. Kita dapat mengembangkan imajinasi penafsiran bahwa barangkali, “ular besar” yang disinggung dalam surat Al-A’raf lambat laun berubah menjadi mengerikan sehingga Nabi Musa sendiri pun merasa takut (heran). Wallahu a’lam.

Terlepas dari kebenaran penafsiran ini, yang perlu diambil maknanya adalah dengan mentadabburi ayat-ayat mutasyabihat, Insya Allah hafalan kita lebih kokoh di hati.

 

Dikutip dari buku “Agar Orang Sibuk Bisa Mengahafal Al-Qur’an) Karya : Bahirul Amali Herry

Disadur kembali Oleh Muhammad Nurdin

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *