Berbaik Sangka Kepada Allah

“Jika kau tidak bisa berbaik sangka kepada Allah karena kebaikan sifaf-sifat-Nya, berbaik sangkalah kepada-Nya atas kebaikan perlakuan-Nya kepadamu. Bukankah Dia selalu memberimu yang baik-baik dan mengaruniaimu berbagai kenikmatan?”

Dalam hikmah ini, Ibnu Atha’illah mengisyaratkan bahwa dalam berbaik sangka kepada Allah, manusia terbagi menjadi dua golongan : golongan khusus dan golongan awam.

Golongan khusus berbaik sangka kepada Allah atas sifat-sifat-Nya yang baik. Sementara itu, golongan umum berbaik sangka kepada Allah atas perlakuan-Nya yang baik terhadap diri mereka, berupa karunia dan nikmat yang telah diberikan-Nya kepada mereka.

Ada perberdaan yang mencolok antara dua maqam tersebut. Ibnu Atha’illah seakan berkata, “Wahai murid, kau harus berbaik sangka kepada Allah secara mutlak, baik itu atas manfaat yang telaj diberikan-Nya maupun bahaya yang telah diajuhkan-Nya darimu. Kau tidak boleh berpaling kepada selain-Nya. Jika kau tak sanggup berbaik sangka kepada-Nya menurut maqam oramh khusus, kau bias berbaik sangka kepada-Nya menurut maqam orang awam.sikap berbaik sangkaumu kepada Alah atas kebaikan sifat-sifat-Nya akan menumbuhkan cinta dan tawakal yang benar kepada-Nya. Baik sangkamu kepada-Nya atas perlakuan-Nya yang baik terhadapmu akan membuahkan syukur atas nikmat dan rahmat-Nya.”

“Sungguh aneh! Orang menghindar dari sosok yang tak bias dihindari, lalu mencari sesuatu yang tidak kekal. ‘Sesungguhnya, mata kepala itu tidak buta, tetapi yang buta adalah mata hati yang ada di dalam dada’” (QS. Al-Hajj : 46)

Baca juga : Rahasia Ilahi Bukanlah Tujuan Utama Seorang Pembelajar

Sungguh mengherankan! Orang ingin menghindari Allah dengan tidak melakukan apa yang suidah ditetapkan-Nya untuknya dan lebih suka mencari dunia dan perkara-perkara selain-Nya karena mengikuti hawa nafsu.

Tindakan seperti ini bersumber dari kebutaan mata hati dan kebodohannya tentang Tuhannya karena ia menukar sesuatu yang teramat baik degnan sesuatu yang hina. Ia juga lebih mengutamakan yang fana daripada yang kekal dan tak bias dihindarinya. Sekiranya ia memiliki mata hati yang tajam, niscaya ia takkan melakukan hal itu.

 

Dikutip dari Al-Hikam karya Ibnu Atha’Illah As-Sakandari

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *