Berbagai Reaksi Manusia Saat Diajak Berinteraksi Dengan Al-Qur’an

Ada tiga reaksi jiwa manusia saat diajak berinteraksi dengan Al-Qur’an :

Jiwa yang ammarah bis suu’; jiwa yang menolak dan enggan untuk melakukan apapun yang terkait dengan Al-Qur’an. Menolak membaca, menghafal, memahami, ataupun mentadabburinya, padahal dia beriman dengan kebenaran Al-Qur’an, bahkan paham keutamaan-keutamaannya. Apa yang menghalangi jwanya sehingga lemah tersiksa, terbebani ketika diajak taat kepada Allah? Karena terkotori oleh maksiat atau minim berdzikir kepada Allah dan lebih dominan kepada aktifitas-aktifitas lain, walaupun itu aktivitas yang mubah, apalagi yang melanggar syariat. Inilah jiwa ammarah bis suu’ (jiwa yang sakit, jiwa yang cenderung kepada kejahatan).

Terapinya harus terus diberi pemahaman dengan ilmu-ilmu syariat, akidah dan kehidupan hari akhirat. Ibarat fisik yang sakit, kondisinya hampir sama. Tidak selera makan, betapapun diberi makanan yang lezat dan bergizi, jika dipaksakan juga sulit menelannya, fisik yang sakit bisa menggangap makanan lezat baik jamu yang harus dijauhi, karena rasanya yang pahit, lidah pun menolaknya. Padahal bagi fisik yang sehat, akan siap melahapnya sampai tidak tersisa sedikitpun. Dalam hal ini para ulama memahami, bahwa ayat yang terkandung pada QS. Al-Waqi’ah : 75-80 tidak hanya dengan ilmu fiqih. Tapi juga dengan pendekatan tazkiyah nafs (pembersihan jiwa), seperti yang dikatakan oleh Omam Al-Farra :

“Tidak akan merasakan rasanya, manfaat dan keberkahannya kecuali orang-orang yang suci, yakni orang=orang yang betul-betul beriman dengan Al-Qur’an”

Sedangkan Al-Husain bin Al-Fadl berkata :

“Tidak akan bisa memahami tafsirnya dan kandungannya kecuali orang-orang yang disucikan oleh Allah dari syirik dan penyakit kemunafikan”

Baca juga : Cita-cita Yang Meletupkan Semangat

Sedangkan jiwa yang kedua adalah jiwa lawwamah (jiwa yang sudah mendekati kondisi yang baik) keimanannya kepada Al-Qur’an dan hari akhirat tapi belum sepenuhnya tertarik kepada Al-Qur’an. Namun dia mau berjuang (mujahadah) untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an. Dia berusaha untuk memulai mambaca Al-Qur’an, lima, sepuluh sampai lima belas menit. Jiwanya menolak namun tidak menyerah, walaupun seperti “tersiksa”, tapi dia bersabar dan bersabar. Dia jinakkan jiwanya, dalam kondisi seperti ini, Al-Qur’an sedang melakukan proses detokfikasi terhadap kotoran-kotoran jiwa. Dua puluh menit kemudian, jiwa mulai merasakan nikmatnya Al-Qur’an. Al-Qur’an terasa indah untuk dibaca dan dihayati. Saat itulah jiwa tidak ingin memutus dirinya dari Al-Qur’an, kalau bukan karena tugas-tugas yang lain, ingin menjadikan seluruh waktunya untuk Al-Qur’an. Intinya terletak pada kuatnya ‘mujahadah’ dan menyabar-nyabarkan diri (tashabbur).

Jiwa yang ketiga yaitu jiwa yang mutmainnah (jiwa yang selalu tersambung dengan Allah). Jiwa yang selalu merindukan Al-Qur’an. Sejak memegang Al-Qur’an sudah merasakan nikmatnya akan bersama A-Qur’an. Apalagi setelah dimulai dengan taawudz dan basmallah, semakin terasa nikmatnya Al-Qur’an. Begitulah seterusnya, tanpa terasa sudah satu juz, begitulah seterusnya, semakin nikmat dan nikmat, tanpa terasa tiba-tiba sudah lima juz terbaca. Begitulah kondisi jiwa yang sehat. Inilah jiwa yang siap dan matang untuk melanjutkan kepada interaksi-interaksi yang lain, seperti menghafal, mengkaji dan mentadabburi Al-Qur’an. Pantaslah jika Utsman bin Affan pernah berkata “Kalau saja hati itu bersih, dia tidak akan pernah merasa kenyang atau puasa bersama Al-Qur’an”.

 

 

Sumber : Ya Allah Jadikan Kami Ahlul Qur’an, Abdul Aziz Abdur Rauf, Lc.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *