Al-Qur’an Sebagai Pondasi Rumah Tangga

KITA PAHAM dan yakin, Al-Qur’an adalah pedomanhidup bagi seluruh sisi kehidupan menusia. Termasuk didalamnya mengatur kehidupan berumah tangga. Mulai dari persiapan pernikahan, memilih pasangan,  panduan menjalani bahtera rumah tangga, sampai solusi terhadap problematika rumah tangga.

Tidak ada rujukan apa pun yang memberikan pedoman kehidupan berumah tangga selengkap Al-Qur’an, yang berasal dari sang Maha Pencipta dan Maha Mengetahui (Al Khallaq Al ‘Aliim). Sehingga saat manusia bersandar kepada selain Al-Qur’an, maka ia akan tersesat dan gagal dalam berumah tangga. Yakinlah Insya Allah rumah tangga dalam naungan Al-Qur’an adalah rumah tangga yang sukses dan bahagia, seyakin kita kepada Allah yang Maha Benar dalam semua firman-Nya. Itulah alasan terbesar, mengapa untuk berumah tangga kita harus mempersiapkan diri dengan Al-Qur’an. Oleh karenanya seorang muslim yang sudah bertekad untuk berumah tangga, hendaklah ia lebih intensif hidup yang banyak, tafhim (memahami) dan terutama tadabbur (menghayati) Al-Qur’an.

Oleh karena itu saat membahas bab rumah tangga, kita harus sadar bahwa sesungguhnya kita sedang membahas atau membicarakan Al-Qur’an. Alangkah mulianya di sisi Allah swt. manusia yang mengkaji permasalahan rumah tangga dalam naungan Al-Qur’an.

Baca juga : Tobat dari Perspektif Kalam Ilahi

Tingkat Kesiapan dalam Menerima Arahan Al-Qur’an

Kesiapan jiwa dan hati manusia untuk menerima arahan-arahan Al-Qur’an –termasuk arahan tentang rumah tangga- sangat ditentukan oleh interaksinya bersama Al-Qur’an seperti yang tercantum dalam kandungan surat Fathir ayat 32

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu diantara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah, Yang demikian itu adalah karunia yang besar.”

  • Dzalimun Linafsihi (orang yang belum siap menerapkan ayat-ayat rumah tangga, bahkan masih selalu melanggarnya)
  • Muqtashid (orang yang baru siap melaksanakan sebagian aya-ayat-Nya)
  • Saabiqun Bil Khairat (orang yang siap melaksanakan seluruh ayat-ayat-Nya, sehingga suami istri berusaha menjadi yang terbaik perilakunya atau ahsanu amalan di sisi Allah swt.)

 

Cara Menghadirkan Ruh Al-Qur’an

Ruh Al-Qur’an dapat hadir dalam kehidupan pribadi, rumah tangga, masyarakat dan negara melalui sarana-sarana sebagai berikut:

  • Interaksi intensif bersama Al-Qur’an penuh semangat beribadah secara khusyuk,taqarrub (mendekatkan diri), cinta dan ihtisab (selalu berharap balasan) kepada Allah swt. secara terus-menerus; sampal Al-Qur’an menjadi suatu kebutuhan yang tak terelakkan dalam kehidupan.
  • Tilawah Al-Qur’an yang intensif, hifdzul Qur’an at ta’abbudi (menghafal Al-Qur’an dengan semangat ibadah), tadabbur Al-Qur’an, sehingga menghasilkan amal yang penuh semangat.
  • Aksi-aksi taqarrub ­(mendekat) kepada Allah swt. yang spesial, dengan menjadikan Al-Qur’an hidup dalam shalat-shalat kita: shalat wajib, qiyam lail serta semua shalat-shalat sunnah.
  • Aktif menghidupkan Al-Qur’an dlam kehidupan umat dalam pengajaran dan sosialisasi Al-Qur’an dengan berbagai macam sarananya.

 

Pilar-Pilar Rumah Tangga

Ruh Al-Qur’an inilah yang menjadi pondasi dalam kehidupan rumah tangga. Selanjutnya diatas pondasi tersebut, bangunlah pilar-pilar rumah tangga yang kokoh dan kuat serta tidak mudah runtuh oleh hantaman angina puting beliung sekuat apapun. Pilar-pilar ini berfungsi untuk membentengi rumah tangga dari tiga penghancur utam : kehajilan, hawa nafsu dan setan. Pilar rumah tangga yang disinari Al-Qur’an akan tersinari tiga hal berikut ini:

  • Ilmu yang bermanfaat

Yakni ilmu yang dapat menghidupkan pribadi dan rumah tangga yang sedang dibangun. Terutama ilmu mengenal Allah (makrifatullah) yang intisarinya adalah at taqwa. Ilmu makrifatullah mencakup: mahabbah (cinta Allah), isytisyaaq (rindu Allah), aridha (ridha akan ketentuan Allah), ta’alluq (ketergantungan kepada Allah), dan tawakkal ilallahi wahdah (berserah diri hanya kepada Allah). Ilmu tentang makrifatullah ini adalah dasar dari ilmu tentang hukum-hukum rumah tangga.

  • Iman kepada Allah swt.

Ayat-ayat tentang rumah tangga sering diawali dengan panggilan keimanan  (Ya ayyuhalladzina aamanuu). Semakin baik keimanan seseorang, semakin kuat daya tahannya dalam menghadapi badai rumah tangga. Dari iman yang terus dipupuk, akan menghasilkan ketakwaan ynag mendalam. Iman dan takwa inilah yang akan menghasilkan ihtisab (keyakinan adanya balasan dari Allah) dalam berumah tangga. Sehingga ketika salah satu pasangan suami istri itu berbuat baik atau bersabar atas perilaku pasangannya, maka ia yakin bahwa apa yang dilakukannya tidaklah sia-sia di sisi Allah swt., pasti ada balasan yang besar dari Allah swt., pasti ada balasan yang besar dari Allah swt. Sehingga rumah tangga menjadi ladang luas dalam beramal saleh dan meraih pahala-pahala dari Allah yang sangat mudah dijangkau oleh suami istri.

  • Akhlaqul karimah (mulia)

Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa manusia itu akan senantiasa berhadapan dengan fitnah kehidupan, fitnah hawa nafsu serta godaan setan. Hanya dengan akhlak karimah lah, suami istri akan mampu menghadapi berbagai fitanh di atas. Yakni dengan siap bersabar, itsar (mengalah), tasamuh (toleransi), ihsan (berbuat baik) dsb.

  • Maknawiyyah ‘aliyah (spiritualitas yang tinggi)

Yaitu hasil dari ta’alluq (ketergantungan dengan Allah swt.) yang terlihat dalam banyaknya amal saleh yang dilakukan, seperti shalat wajib dan sunnah, tilawah, puasa dsb. Dalam kondisi yang menyenangkan, maknawiyyah ‘aliyah ini akan menjaga manusia dari lupa kepada Allah, kufur nikmat dan menjauh dari Allah. Sedangkan saat menghadapi masalah, maknawiyyah ‘aliyah mengajak manusia kembali kepada Allah, tidak mengikuti hawa nafsu, melakukan akhlak tercela, kezaliman, dan istibdaad (menang sendiri). Hasilnya adalah pribadi muhsin (baik) dalam setiap kondisi, saat menghadapi masalah besar, apalagi masalah kecil.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *