Al Qur’an Berbicara Tentang Riba

Al Quran berbicara tentang Riba

Masalah Pengharaman Riba

 

Sebelum kedatangan islam, bangsa Arab yang bermukim di Jazirah Arabia hidup dalam kondisi ekonomi yang cukup meprihatinkan. Hal ini dikarenakan sangat susahnya air dan tumbuhan serta jarangnya hujan turun. Buruknya kondisi ekonomi ini, jelas membawa pengaruh mendalam terhadap tabiat dan karakter mereka. Itu pula sebabnya, perdagangan menjadi profesi utama masyarakat ini. Mari perhatikan penggambaran yang dikemukakan Allah SWT terhadap aktivitas mereka tersebut, yaitu firman-Nya,

Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka berpergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka’bah), yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghiangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa katakutan.” (Quraisy :1-4)

Selanjutnya kondisi gografis yang keras dan andus ini juga acap kali menjadi pemicu pertikaian, bahkan peperangan. Mereka seringkaliterlibat perseteruan memperebutkan sumber air dan tempat tumbuhnya pepohonan.

Kaum Yahudi yang berdomisili di Jazirah Arab berperan besar dalam membangkitkan rasa perusuhan ini. Hal itu dikarenakan anggapan mereka bahwa tidak tercela jika mereka melakukan hal-hal yang tidakterpuji terhadap bangsa Arab. Selain itu, mereka juga tidak segan-segan memanfaatkan kebutuhan mendesak orang-orang Arab terhadap modal atau harta untuk memberikan pinjaman dnegan bunga tinggi, bahkan sampai berkali-kali lipat dari pokok pinjaman. Saking merajalelanya praktik tercela seperti ini seluruh penjuru jazirah Arab sampai-sampai tertanam secara kuat kebiasaan itu di diri mereka. Hasilnya, ia menjelma menjadi sebuah tradisi yang mendarah daging di dalam masyarakat.

Baca juga : Keutamaan Akhir Surat Al Baqarah

Itulah sebabnya dapat dilihat bahwa Al Qur’an menaruh kepedulian yang besar terhadap penyembuhan penyakit sosial  yang berbahaya ini.

Jika dikumpulkan ayat-ayat yang berbicara tentang masalah ini, maka akan didapati bahwa terdapat empat ayat yang diturunkan Allah SWT untuk mengobati penyakit kronis tersebut. Ayat-ayat dimaksud antaralain firman-Nya,

Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).” (Ar-Ruum : 39)

Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan Karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah,
Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal Sesungguhnya mereka Telah dilarang daripadanya, dan Karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. kami Telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.”
(An-Nisaa’ : 160-161)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda] dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Al-Imran :130)

“Hai orang-orang beriman, bertakwalah pada Allah dan tinggalkan sisa riba jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak melaksanakan (apa yang diperintahkan ini) maka ketahuilah, bahwa akan terjadi perang dahsyat dari Allah dan RosulNya dan jika kamu bertaubat maka bagi kamu pokok harta kamu, kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak dizalimi”. (Al- Baqarah :278-279)

Praktik riba yang seperti apakah yang kemudian dilarang oleh islam? Jawabnya adalah, praktik dimana ada seseorang yang meminjam uang kepada orang lain, lalu ketika sampai jangka waktunya, si pemilik uang datang untuk menagihnya. Akan tetapi, orang yang meminjam lalu berkata, “Tangguhkanlah tempo pembayarannya dan sebagai kompensasinya saya akan menambah jumlah uangmu.” Si pemilik uang kemuadian menyepakati usulan tersebut. pRaktik riba seperti ini disebut dengan riba nasi’ah yaitu menambahan jumlah uang sebagai kompensasi dari penangguhan pembayaran tempo pembayaran uatang.

Jenis riba lainnya yang dilarang Isalam adalah riba fadhl, yaitu penambahan dalam tukar-menukar  bahan makanan. Jenis riba ini diharamkan berdasarkan sabda Rasulullah saw., dimana banyak sekali hadist yang berbicara tentang pelarangannya. Diantaranya adalah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri bahwa Rasulullah saw bersabda.

penukaran emas dengan emas, perak dengan perak, biji gandum dengan biji gandum, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (harus) sama takaran/beratnya dan (tukar-menukar tersebut) dilakukan secara langsung. Siapa yang menambah atau meminta tambah, maka sesungguhnya ia telah melakukan riba. Orang yang mengambil dan yang menerima sama (berdosanya).”

 

Source: Fenomena Keajaiban Al-Qur’an by Dr Muhammad Mahmud Hijazi

 

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *