Al Qur’an Berbicara Tentang Riba (2)

Tahapan Pertama dalam Pengharaman Riba

 

Ayat pertama yang berbicara tentang hal tersebut adalah firmanNya,

Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar harta manusia betambah, maka tidak bertambah dalam pandanga Allah Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk memperoleh keridaan Allah, maka itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahala).” (ar-Ruum:39)

Ayat diatas turun di tengah-tengah ayat lain yang menyatakan bahwa Allah-lah pemberi rezeky, ditangan-Nya terletak kendali seluruh hal, dan Dialah yang melapangkan atau menyempitkan rezeky makhluk-makhlukNya. Dengan demikian, keadaan miskin atau kaya sesungguhnya kembali kepada kehendak Allah SWT. Dengan kata lain, bukanlah sikap pelit yang membuat harta seseorang bertambah, sebagaimana sikap gemar memberi atau bersedekah bukanlah penyebab berkurang atau menyampitnya harta.

Oleh sebab itu, sangat wajar jika Allah SWT kemudian memerintahkan orang-orang kaya untuk memberi, terutama orang-orang terdekatnya, sesuai dengan kadar kemampuan. Demikian juga dengan hak-hak orang kafir, miskin, ibnu sabil, dan lainnya. Pemberian itu tidak harus dengan memperhitungkan terlebih dahulu nisab zakat atau apakah harta miliknya itu telah genap setahun atau belum. Sikap dermawan seperti itu merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan kemasyarakatan. Perbuatan tersebut juga sangat terpuji dan mereka yang melakukannya adalah orang-orang yang akan mendapatkan kemenangan.

Ditengah suasana motivasi yang kuat untuk memberi dan membantu orang lain, Al Qur’an selanjutnya memaparkan dua tipe masyarakat sebagai renungan.

 

Baca juga : Keistimewaan Al Qur’an

Pertama, masyarakat yang suka memancing di air keruh, yaitu dengan memanfaatkan kesempitan orang lain untuk mencari keuntungan. Tidak ada rasa kasih sayang atau saling membantu pada anggota masyarakatnya. Bahkan, yang ada adalah warga yang kuat dan kaya memakan mereka yang lemah dan papa. Mereka tega menumpuk-menumpuk kekayaan tanpa berpayah-payah bekerja.

Inilah masyarakat yang hidup diatas pondasi praktik ribawi, dimana pihak yangkaya mengisap darah yang miskin tanpa belas kasihan. Yang dipikirkan hanya bagaimana menambah pembendaharaan harga tanpa bekerja keras. Hal ini tentunya akan menciptakan jurang pemisah antara golongan kaya dan miskin, serta menyebabkan kekayaan hanya terkonsentrasi pada segelintir orang. Tidakkah orang-orang seperti itu mneyadari bahwa sesungguhnya tindakan tidak terpuji tersebut tidak akan menambah harta mereka dalam pandangan Allah SWT maupun manusia?

Kedua, masyarakat saling bekerja sama dan bantu-membantu. Orang-orang yang kaya menafkahkan bagian tertentu dari hartanya untuk membantu yang lain. Tindakan yang didasarkan pada kasih dan sangat efektif menanamkan rasa saling mencintai di antara anggota masyarakat ini, tidak diragukan lagi akan membuat harta seseorang terjaga dari gangguan pihak lain. Selain itu, sekat antar golongan yang kaya dan golongan yang miskin juga semkain mengecil. Dalam kerangka ini, tepat sekali apa yang disabdakan Rasulullah saw. dalam sebuah hadist,

Bentengilah harta kalian dengan zakat”

Allah SWT telah menjanjikan bahwa sipa yang gemar menafkahkan hartanya, maka ia akan dimudahkan  untuk menempuh jalan kebaikan dan hartanya justru akan semakain bertambah  atau berkembang.

Melalui pemaparan tentnag dua model masyarakat yang bertolak belakang tersebut, Al-Qur’an mengawali uraiannya tentang riba. Hal ini sedikit banyaknya tentu dapat menggugah kesadaran masyarakat untuk mulai sedikit demi sedikit menjauhi praktik tercela ini.

 

 

Source : Fenomena Keajaiban Al Qur’an by Dr Muhammad Mahmud Hijaz

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *