Air Dalam Metabolisme Tubuh Manusia

“Dan (juga) pada dirimu sendiri (terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah). Maka, apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Az-Zaariyat : 21)

Dari struktur molekul air, adanya kutub negatif pada O (Oksigen) dan kutub positif pada H (Hidrogen) menyebabkan molekul air bersifat polar. Hal ini amat berbeda dengan molekul cairan lainnya, misalnya benzena (C6H6) atau heksana (C6H14), yang tidak terpolarisasi, atau disebut senyawa nonpolar. Senyawa polar dari air tersebut menyebabkan air amat menguntungkan bagi kehidupan manusia, karena dengan demikian air bisa melarutkan semua senyawa mineral yang bersifat polar. Sifat air yang polar tersebut tidak hanya mendukung penyerapan mineral, vitamin, dan gula dalam tubuh manusia, tetapi juga perubahan mineral di alam. Proses absorpsi atau disorpsi mineral di alam melalui proses penukaran ion hanya terjadi karena adanya air yang bersifat polar.

Baca juga : Tobat dari Perspektif Kalam Ilahi

Metabolisme atau reaksi-reaksi biofisika kimia dalam tubuh hanya dapat terjadi karena adanya media air. Proses penyerapan gizi dalam permukaan usus, penyerapan O2 oleh elveoli paru-paru, serta distribusi nutrisi dan oksigen tak dapat dipisahkan dari air. Darah sebagai cairan pengangkut nutrisi dan oksigen hampir seluruhnya adalah air. Tapi anehnya, air dalam darah maupun sel-sel tubuh dapat melarutkam lemak atau protein yang akan terteroksidasi dalam metabolisme tubuh. Meski ilmu pengetahuan belum dapat melihat struktur air secara nyata walaupun dengan elekttron mikroskop, namun data termodinamika menunjukkan bahwa struktur air adalah kunci penting. Khusus interaksi biokimia dengan senyawa nonpolar di atas, klater molekul air amat penting keberadaannya selain daripada air dalam bentuk monomer (H2O).

Klaster-klaster air itulah yang dapat mendekat pada molekul non-polar seperti protein, minyak, dan lemak. Adanya klaster air itu pula yang menyebabkan air dalam darah dapat mengangkut molekul-molekul nonpolar. Demikian pula, sperma yang merupan protein terdispersi dalam air secara sempurna dalam bentuk air mani. Namun keberadaan klaster-klaster hanya dapat di deteksi dari sifat termodinamikanya, yakni entropi yang cenderung rendah, yang berarti tingkat keteraturan yang tinggi, yakni dalam bentuk klaster. Anehnya, kondisi terbentuknya klaster tersebut hanya optimum pada suhu antara 35-41°C yang tak lain adalah suhu tubuh kita. Ini adalah ayat kauniyah yang menunjukkan bagaimana kebesaran Allah sebagai Maha Pencipta.

Air, selain untuk dikonsumsi, juga menjadi media atau alat untuk bersuci (membersihkan diri dari berbagai kototran/najis dan hadas). Sifat air yang melarutkan dapat menarik kotoran yang menempel pada tubuh atau benda lain. Dalam Islam, membersihkan diri dan bersuci merupakan hal yang diutamakan. Oleh sebab itu, air memiliki peranan sentral dalam peribadatan Islam karena ir diperlukan untuk bersuci sebagai prasyarat untuk melaksanakan ibadah terpenting, yaitu salah. Tetap dalam keadaan suci (dan bersih) sangat dianjurkan pula dalam melakukan ibadah-ibadah lainnya yang pada dasarnya meliputi seluruh aspek kehidupan. Diutamakannya kebersihan ini menunjukkan bahwa ajaran islam bukanlah budaya Arab. Air menjadi unsur penting dalam peribadatan, karena diperlukan untuk berwudhu dan mandi janabah yang merupakan cara bersuci yang baku sebelum melakukan ibadah. Meski demikian, apabila air tidak ada, bersuci bisa dilakukan dengan cara tayamum menggunakan tanah atau debu. Seandainya ajaran Islam itu budaya Arab, maka dapat dipastikan air tidak menjadi media atau alat utama untuk bersuci, karena di wilayah Jazirah Arab, air merupakan barang langka yang sangat berharga. Bahkan untuk dikonsumsi manusia saja, ketersediaan air sangat terbatas dan diperlukan usaha ekstra keras untuk memperolehnya.

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Maidah : 6)

 

 

Sumber :

Mengenal Ayat-Ayat Sains : Air, Kemenag RI & LIPI

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *