Adanya Dua Masjid di Dalam Satu Wilayah

Al-Qur’an membuka cakrawala pengetahuan dan kesadaran diri Alvin seluas-luasnya. Bocah itu selalu berpijak pada Al-Qur’an jika berpendapat maupun bertindak lanjut.

Sejak hafal lafal maupun makna Al-Qur’an, Alvin selalu memperhatikan lingkungan sekitarnya. Ketika ada sebuah fenomena sosial yang menurutnya tak sejalan dengan Al-Qur’an, dia tak segan melontarkan kritik.

Misalnya, ketika Alvin mendapati dua masjid yang berdiri sama-sama megah di sebuah kampung. Dia merasa fenomena itu kurang pas. Menurut Alvin, kondisi tersebut tidak sejalan dengan semangat Islam yang membawa semangat ukhuwah, kerukunan, dan persatuan.

“Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkanNya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya)” (QS. Asy-Syuura : 13). Inilah ayat yang membuat Alvin yakin umat Islam harus bersatu.

Baca juga : Berbagai Reaksi Manusia Saat Diajak Berinteraksi Dengan Al-Qur’an

Dengan adanya dua masjid dalam satu kampung, menurut Alvin, situasi tersebut berpotensi memecah belah umat Islam.

“Orang Islam ‘kan seharusnya bersatu. Allah menyerukan itu. Bersatu ‘kan harus kompak, tidak terpecah-pecah. Termasuk dalam shalat jamaah, seharusnya orang Islam bersatu. Kalau di satu kampung ada dua masjid, bukankah orang Islam yang ada di kampung itu terpecah? Sebagian ingin shalat di masjid yang itu, sebagian di masjid lainnya. Tidak kompak,” begitulah pendapat bocah 11 tahun tersebut.

Alvin beberapa kali mendapati ada dua masjid yang berdiri di satu kampung. Sebagian penduduk memilih sholat di masjid “yang ini”, sebagian yang lain memililh shalat di masjid “yang disitu”. Alvin, dengan ekpresi polosnya, mengungkapkan keprihatinannya terhadap fenomena tersebut. Komplet dengan senyum lugunya yang seolah meminta persetujuan untuk pendapatnya, “Betul ‘kan?”

“Bisa jadi satu masjid dibangun oleh orang yang tidak senang jika seluruh orang Islam sekampung bersatu. Kata Al-Qur’an, masjid seperti itu dibangun oleh orang kafir  atau orang munafik yang ingin  kita semua orang Islam terpecah. Ingin agar umat Islam menuju kekafiran,” terang Alvin.

Guna memperkuat argumentasinya, Alvin mengutip satu ayat, “Dan (diantara orang-orang munafik) itu ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang memerangi Allah dan Rasulnya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah : ‘kami tidak menghendaki selain kebaikan’ Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya)” (QS. At-Taubah : 107).

Alvin juga menerangkan latar belakang sejarah turunnya ayat tersebut. Dia menafsir dituntun bapaknya. Menurut tafsir Ibnu Katsir, yang dijadikan pijakan oleh Alvin dan Firman, yang dimaksud dengan orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu adalah seorang pendeta Nasrani bernama Abu ‘Amir.

Ceritanya, Abu ‘Amir ini membangun sebuah masjid. Kedatangannya ke masjid itu ditunggu-tunggu oleh orang-orang munafik. Abu ‘Amir datang dari Syria (Suriah) untuk bersembahyang di masjid yang mereka dirikan.

Menurut rencana, Abu ‘Amir datang bersama tentara Romawi. Namun, dia tidak jadi datang karena dia mati di Syria. Masjid yang didirikan oleh kaum munafik itu diruntuhkan atas perintah Rasulullah SAW berkenaan dengan wahyu yang diterimanya sesudah kembali dari peperangan Tabuk.

“Masjid seperti yang didirikan Abu ‘Amir disebut masjid dhirar, yaitu masjid yang mendatangkan kemudharatan. Tujuannya dibangun untuk memecah belah umat . fenomena dua masjid dalam satu kampung ini yang mengusik perhatian Alvin. Dia khawatir umat akan terpecah,” Firman menerangkan.

Bocah sekecil Alvin pun menyadari adanya fenomena upaya memecah belah umat Muslim. Dia mengungkapkan keprihatinannya dengan cara ekspresinya sendiri sebagai seorang bocah, ketika sebagian besar orang Muslim dewasa malah tak menyadari fenomena tersebut.

 

Sumber : Hafiz Cilik, 11 Tahun Hafal 17 Juz Al-Qur’an & Paham Sebagiannya, Tofik Pram

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *